Forum Seputar Cuap-Cuap Menarik dan Berguna : D
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Cerita sex Pemerkosaan kejam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
gila123



Jumlah posting : 6
Join date : 04.05.17

PostSubyek: Cerita sex Pemerkosaan kejam   Fri May 05, 2017 12:40 am

Sudah dua jam lebih Upit menunggu
lewatnya bus jalur 6A yang biasanya
mengantarkannya pergi pulang sekolah. Ya, hanya
bus rakyat itulah satu-satunya sarana
transportasinya dari Godean ke SMP Negeri favorit
di bilangan dekat perguruan tinggi negeri. Tapi
sejauh ini, bus itu belum nongol-nongol juga.
Padahal kakinya sudah semutan terus berdiri di
depan proyek bangunan berlantai tiga yang
rencananya untuk restoran ayam goreng terkenal
dari Amerika itu. Upit yang kelas satu dan belum
sebulan ini masuk sekolah barunya, melirik sekali
lagi jam tangannya hadiah dari kakaknya yang
kerja di Batam. Pukul lima siang lewat sepuluh
menit. Inilah arloji hadiahnya jika masuk SMP
favorit. Gadis 12 tahun bertubuh imut tapi tampak
subur itu memang pintar dan cerdas. Tak heran
jika ia mampu menembus bangku sekolah
idamannya.
Cuaca di atas langit sana benar-benar sedang
mendung. Angin bertiup kencang, sehingga
membuat rambut panjang sepinggangnya yang
lebat tapi agak kemerahan itu berkibar-kibar.
Hembusannya yang dingin membuat gadis berkulit
kuning langsat dan berwajah ayu seperti artis
Paramitha Rusady itu memeluk tas barunya erat-
erat untuk mengusir hawa dinginnya. Berulang
kali bus-bus kota lewat, tapi jalur yang ditunggu-
tunggunya tak kunjung lewat juga. Sejenak Upit
menghela nafasnya sambil menebarkan
pandangannya ke seluruh calon penumpang yang
berjejalan senasib dengannya. Lalu menengok ke
belakang, memperhatikan pagar seng
bergelombang yang membatasi dengan lokasi
pembangunan proyek tersebut. Tampak puluhan
pekerjanya yang tengah meneruskan kegiatannya,
walaupun cuaca sedang jelas hendak hujan deras.
Hilir mudik kendaraan yang padat kian membuat
kegelisahannya memuncak.
Mendadak hujan turun dengan derasnya. Spontan
saja, Upit dan tiga orang calon penumpang bus
kota yang di antaranya dua pasang anak SMA dan
seorang bapak-bapak secara bersamaan
numpang berteduh masuk ke lokasi proyek yang
pintunya memang terbuka dan di sana terdapat
bangku kayu serta teduh oleh tritisan beton.
Sedangkan belasan orang lainnya memilih
berteduh di depan toko fotocopy yang berada di
sebelah bangunan proyek itu. “Numpang berteduh
ya, Pak!” pinta ijin bapak-bapak itu disahuti
teriakan “iya” dari beberapa kuli bangunan yang
turut pula menghentikan kerjanya lalu berteduh di
dalam bangunan proyek. Tapi dalam beberapa
menit saja, bapak tua itu telah berlari keluar
sambil berterima kasih pada para kuli bangunan
setelah melihat bus kota yang ditunggunya lewat.
Tak sampai lima menit kedua anak SMA itupun
mendapatkan bus mereka. Kini Upit sendirian
duduk menggigil kedinginan.
“Aduh..!” kaget Upit yang tersadar dari
lamunannya itu tatkala sebuah bus yang
ditunggunya lewat dan berlalu kencang. Tampak
wajah gelisah dan menyesalnya karena melamun.
“Mau pakai 6A, ya Dik?” tanya seorang kuli yang
masih muda belia telah berdiri di sampingnya Upit
yang tengah mondar-mandir di depan bangku.
Upit sempat kaget, lalu tersenyum manis sekali.
“Iya Mas. Duh, busnya malah bablas. Gimana nih?!”
“Tenang saja, jalur 6A-kan sampai jam tujuh
malam. Tunggu saja di sini, ya!” ujarnya sambil
masuk ke dalam.
Upit hanya mengangguk ramah, lalu duduk
kembali di bangkunya, yang sesekali waktu dia
menengok ke arah timur, kalau-kalau terlihat bus
jalur 6A lewat. Setengah jam lewat. Tak ada
tanda-tanda bus itu lewat. Upit melihat ke dalam
gedung yang gelap itu, tampak sekitar lima puluh
kuli sedang istirahat. Sebagian asyik ngobrol,
lainnya merokok atau mandi di bawah siraman air
hujan. Lainnya terlihat terus-menerus
memperhatikan Upit. Perasaan tak enak mulai
menyelimuti hatinya.
Belum sempat otaknya berpikir keras untuk dapat
keluar dari lokasi proyek, mendadak sepasang
tangan yang kuat dan kokoh telah mendekap
mulut dan memiting lehernya. Upit kaget dan
berontak. Tapi tenaga kuli kasar itu sangatlah
kuat, apalagi kuli lainnya mengangkat kedua kaki
Upit untuk segera dibawanya masuk ke dalam
bangunan proyek.
“Diam anak manis! Atau kami gorok lehermu ini,
hmm!” ancam kuli yang telanjang dada yang
menyekapnya itu sambil menempelkan sebilah
belati tajam di lehernya, sedangkan puluhan kuli
lainnya tertawa-tawa senang penuh nafsu birahi
memandangi kemolekan tubuh Upit yang sintal
padat berisi itu. Upit hanya mengagguk-angguk
diam penuh suasana takut yang mencekam. Tak
berapa lama gadis cantik itu sesenggukan. Tapi
apalah daya, suara hujan deras telah meredam
tangis sesenggukannya. Sedangkan tawa-tawa
lima puluh enam kuli usia 16 sampai yang tertua 45
tahun itu kian girang dan bergema sembari
mereka menanggalkan pakaiannya masing-
masing.
Upit melotot melihatnya.
“Jangan macam-macam kamu, ya. Hih!” ancamnya
lagi sambil membanting tubuh Upit di atas
hamparan tenda deklit oranye yang sengaja
digelar untuk Upit. Tas sekolahnya diserobot dan
dilempar ke pojok. Upit tampak menggigil
ketakutan. Wajahnya pucat pasi menyaksikan
puluhan kuli itu berdiri mengelilingi dirinya
membentuk formasi lingkaran yang rapat.
“Tolong.. tolong ampuni saya Pak.. jangan sakiti
aku.. kumohon.. toloong, ouh.. jangan sakiti aku..”
pinta Upit merengek-rengek histeris sambil
berlutut menyembah-nyembah mereka.
Tapi puluhan kuli itu hanya tertawa ngakak sambil
menuding-nuding ke arah Upit, sedangkan lainnya
mulai menyocok-ngocok batang zakarnya
masing-masing.
“Buka semua bajumu, anak manis! Ayo buka
semua dan menarilah dengan erotisnya. Ayo
lakukan, cepaat!” perintah yang berbadan paling
kekar dan usia sekitar 30 tahun itu yang
tampaknya adalah mandornya sambil mencambuk
tubuh Upit dengan ikat pinggang kulitnya.
“Cter!”
“Akhh.. aduh! Sakit, Pak.. akhh..!” jerit kesakitan
punggungnya yang kena cambuk sabuk.
Tiga kali lagi mandor itu mencabuk dada, paha dan
betisnya. Sakit sungguh minta ampun. Upit
menjerit-jerit sejadinya sambil meraung-raung
minta ampun dan menangis keras. Tapi toh
suaranya tak dapat mengalahkan suara hujan.
“Cepat lakukan perintahku, anak manja! Hih!”
sahut mandor sambil melecutkan sabuknya lagi ke
arah dada Upit yang memang tumbuhnya belum
seberapa besarnya, bisa dikatakan, buah dadanya
Upit baru sebesar tutup teko poci. Upit kembali
meraung-raung.
“Iya.. iya Pak.. tolong, jangan dicambuki.. sakiit..
ouh.. ooh.. huk.. huuh..” ucap Upit yang telah
basah wajahnya dengan air mata.
Ucapannya itu disahuti oleh gelak tawa para kuli
yang sudah tak sabar lagi ingin menikmati makan
sore mereka.
“Aduuh, udah ngaceng nih, buruan deh lepas
bajunya.”
“Iya, nggak tahan lagi nih, mau kumuntahkan
kemananya yaa?”
Perlahan Upit beranjak berdiri dengan isak
tangisnya.
“Sambil menari, ayo cepat.. atau kucambuk lagi?”
desak mandor mengancam.
Upit hanya mengangguk sambil menyadari bahwa
batang-batang zakar mereka telah ereksi semua
dengan kencangnya.
Upit perlahan mulai menari sekenanya sambil satu
persatu memreteli kancing seragam SMP-nya,
sedangkan para kuli memberikan ilustrasi musik
lewat mulut dan memukul-mukulkan ember atau
besi. Riuh tapi berirama dangdut. Sorak-sorai
mewarnai jatuhnya bajunya. Upit kian pucat. Kini
gadis itu mulai melepas rok birunya. Kain itu pun
jatuh ke bawah dengan sendirinya. Kini Upit
tinggal hanya memakai BH dan CD serta sepatu.
Sepatu dilepas. Upit lama sekali tak melepas-lepas
BH dan CD-nya. Dengan galak, mandor mencabuk
punggungnya.
“Cter!”
“Auukhh.. ouhk..!” jerit Upit melepas BH dan CD-nya
dengan buru-buru.
Tentu saja dia melakukannya dengan menari
erotis sekenanya. Terlihat jelas bahwa Upit belum
memiliki rambut kemaluan. Masih halus mulus
serta rapat. Tepuk tangan riuh sekali memberikan
aplaus.
Sedetik kemudian, rambut Upit dijambak untuk
dipaksa berlutut di depan mandor. Upit nurut saja.
“Ayo dikulum, dilumat-lumat di disedoot.. kencang
sekali, lakukan!” perintahnya menyodorkan
batang zakarnya ke arah mulut Upit.
Upit dengan sesenggukan melakukan perintahnya
dengan wajah jijik.
“Asyik.. terus, lebih kuat dan kencang..!”
perintahnya mengajari juga untuk mengocok-
ngocok batang zakar mandor.
Upit dengan lahap terus menerus menyedot-
nyedot batang zakarnya mandor yang sangat
keasyikan. Seketika zakar itu memang kian ereksi
tegangnya. Bahkan mandor menyodok-nyodokkan
batang zakarnya ke dalam mulut Upit hingga
gadis itu nyaris muntah-muntah karena batang
zakar itu masuk sampai ke kerongkongannya.
Di belakang Upit dua kuli mendekat sambil jongkok
dan masing-masing meremas-remas kedua belah
buah dadanya Upit sembari pula mempintir-plintir
dan menarik-narik kencang puting-puting susunya
itu.
“Ouuhk.. hmmk.. aauuhk.. hmmk..!” menggerinjal-
gerinjal mulut Upit yang masih menyedot-nyedot
zakar mandor.
Tak berapa lama spermanya muncrat di dalam
mulut Upit.
“Creeot.. cret.. croot..!”
“Telan semua spermanya, bersihkan zakarku
sampai tak tersisa!” perintah galak sambil
menjambak rambut Upit.
Gadis itu menurut pasrah. Sperma ditelannya
habis sambil menjilati lepotan air mani itu di
ukung zakar mandor sampai bersih.
Mandor mundur. Kini Upit kembali melakukan oral
seks terhadap zakar kuli kedua. Dalam sejam Upit
telah menelan sperma lima puluh enam kuli!
Tampak sekali Upit yang kekenyangkan sperma itu
muntah-muntah sejadinya. Tapi dengan galak
mandor kembali mencambuknya. Tubuh bugil Upit
berguling-guling di atas deklit sambil dicambuki
omandor. Kini dengan ganas, mereka mulai
menusuk-nusukkan zakarnya ke dalam vagina
sempit Upit. Gadis itu terlihat menjerit-jerit
kesakitan saat tubuhnya digilir untuk diperkosa
bergantian. Sperma-sperma berlepotan di vagina
dan anusnya yang oleh sebagian mereka juga
melakukan sodomi dan selebihnya membuang
spermanya di sekujur tubuhnya Upit. Upit benar-
benar tak tahan lagi. Tiga jam kemudian gadis itu
pingsan. Dasar kuli rakus, mereka masih
menggagahinya. Rata-rata memang melakukan
persetubuhan itu sebanyak tiga kali. Darah
mengucur deras dari vagina Upit yang malang
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Cerita sex Pemerkosaan kejam
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Pengen bagi2 cerita ttg safety riding
» 6 Makanan Dengan Penyajian Paling Kejam
» Cerita Plester (plesetan Misteri) "Ninja Menangis di Tengah Malam"
» kenalan dunk.. siapa nama ninjanya ?? #cerita ringan aja gan..
» Cerita Rem Blong...!!! ( Di imaginasikan dari kisah asli )

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Cuap-Cuap :: Konten Dewasa :: Cerita Dewasa-
Navigasi: